Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik
reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal
muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan
Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir
tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh
jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan
kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang
melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika
adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri
berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”.
Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang
kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan
Afrika.
Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan
yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan
berlangsung hingga lebih dari dua abad.Di tengah kerja berat dan ancaman
penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran
mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan
nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana.
Bob Marley,
Nabi Para Rasta
Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945
di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit
hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika,
Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan
pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul,
yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio
Amerika. Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan
Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik
kecil di Kingston.
Bersama Peter Mc.Intosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk
The Wailing Wailers yang mengeluarkan album perdana di tahun 1963 dengan hit
“Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude bwai” (rude
boy), anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan
Kingston.Pada bulan April 1966 Bob bertepatan dengan kunjungan HIM
Haile Selassie I —raja Ethiopia– ke Jamaika untuk bertemu penganut
Rastafari.
Kharisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran
Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk
setahun kemudian bersama dua personil lawas Mc Intosh dan Livingston, dia
menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas
menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan
inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.
The Wailers bubar di tahun 1971, namun Bob segera membentuk
band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire
diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan
“ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975),
Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae
sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai ikonnya.
Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari
PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui
lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36
tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di
Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya
tetap mengalun sepanjang zaman.
Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim
disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae.
Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae,
sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang
melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu.Padahal jauh sebelum menjadi
gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.Konon, rambut gimbal sudah
dikenal sejak tahun 2500 SM.
Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir
Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam
agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di
Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di
daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal
para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.
Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada
akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya
menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah
trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya.
Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi
rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan
waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh
salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan,
termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang
permanen.
Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar
dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan
dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.
<>
>

Tidak ada komentar:
Posting Komentar